Archive for July 17th, 2006

17
Jul

Renungan tanpa judul

Sabtu kemarin saya memperoleh sms dari teman di kantor lama, salah seorang rekan kami, meninggal dunia karena serangan jantung. Padahal sehari sebelumnya, Mbak Sri masih masuk kerja seperti biasa kata teman saya, Yayan. Berita duka tersebut saya ceritakan ke istri saya. Istri saya juga cerita bahwa beberapa minggu yang lalu, salah seorang tetangga juga meninggal karena serangan jantung ketika sedang berhenti dengan motornya di sebuah persimpangan berlampu merah. Bruk!! Langsung jatuh.

Mertua saya juga cerita bahwa salah seorang temannya mengalami hal yang sama, sepulang main tennis dengan rekan-rekannya lalu mampir di warung soto. Di tempat itu teman mertua saya itu terjatuh dan menghadap Ilahi.

Tadi sore ada berita bencana lagi, Tsunami terjadi di pesisir Selatan Jawa. Sampai saya tulis blog ini, 80 orang sudah ditemukan tewas. Waduh, ternyata Allah itu tidak seperti pemilik kos/kontrakan ya, tidak ada notifikasi pendahuluan bahwa jatah tinggal kita di dunia ini sudah habis.

Jadi merinding dan takut kalau esok saya atau orang yang saya kasihi mengalami hal itu tepat disaat sebenarnya persiapannya belum ada.

Jadi merinding dan takut kalau ternyata masih ada utang dan janji yang belum terbayar. Jadi merinding dan takut kalau ternyata masih banyak kewajiban yang belum dilaksanakan.

Jadi takut dan merinding kalau ternyata banyak waktu dan kesempatan terbuang percuma.

Untuk orang-orang yang terkasih, manfaatkanlah waktumu.

Dedicated to Mbak Sri Moelyati, seorang teman yang baik dan suka menolong, semoga amal ibadah Mbak Sri diterima oleh Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

17
Jul

Belajar dari Kegagalan

Viagra Saya menemukan hal yang menarik dari warta utama yang diangkat oleh Businessweek minggu  ini. Majalah tersebut mengangkat tema mengenai belajar dari kesalahan; bagaimana perusahaan-perusahaan raksasa dunia sekalipun pernah melakukan kesalahan namun mereka bisa mengambil pelajaran berharga dari pengalaman berbuat salah mereka. Itu menunjukkan sesuatu yang sangat manusiawi bahwa kesalahan itu tidak luput dari manusia siapapun. Namun hal yang lebih menarik adalah bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut mengambil sikap terhadap kesalahan yang mereka buat.

Coca cola pernah mencoba untuk mengeluarkan formula minuman rasa baru yang diberi nama New Coke, tujuan dari aktivitas itu adalah untuk meningkatkan image perusahaan dan tentu saja mencoba mempertahankan produk Coke di benak pelanggan. Namun, bukan keuntungan yang diperoleh namun hanya dalam hitungan pekan produk tersebut ditarik dari pasar karena tidak laku dan memperoleh cemoohan publik. McDonald pernah berinisiatif untuk menciptakan burger nenas sebagai alternative bagi sebagian besar warga Chicago yang berdasarkan kepercayaan agama mereka menghindarkan makan daging di hari Jumat, bisa dibayangkan bagaimana bentuk dan rasa burger nenas itu. Sony di jaman era Betamax mempertahankan kendali atas teknologi tersebut sementara saingannya JVC membagikan-bagikan lisensi atas format VHS ke berbagai pihak. Pfizer melakukan penelitian untuk menciptakan obat mengatasi nyeri dada namun ternyata mengakibatkan efek samping ereksi bagi pria.

Pertama kali saya membaca artikel tersebut, saya dibuatnya tersenyum dan setengah tertawa. Bagaimana tidak, apa yang telah mereka lakukan mirip-mirip adegan banyolan di layar televisi. Kalau saja para orang-orang di balik layar perusahaan tersebut merupakan orang yang pengecut, bisa dipastikan bahwa saat ini kita sudah tidak mendengar nama-nama besar perusahaan tersebut.

Coca-cola, alih-alih bangkrut, mereka mengubah haluannya untuk belajar dari kesalahan mereka. Mereka mencoba lebih mendengarkan keinginan pelanggan mereka. Apa yang mereka inginkan dari sebuah produk minuman Coca cola? Bukan produk baru yang mereka luncurkan. Mereka meluncurkan Coke Classic, Coca cola versi asal dengan kehebohan yang luar biasa. Hasilnya, Coca Cola jadi merk paling bergengsi saat ini.

McDonald dengan burger nenasnya yang tidak mendapat sambutan itu, tidak lantas menyurutkan keinginan mereka untuk tetap merebut pasar yang potensial tersebut. Sebagai alternatif dari burger tanpa daging itu maka dikresikanlah Burger Filet-O-Fish, yang saat ini menjadi menu klasik McDonald. Disukai bukan hanya oleh orang yang tidak makan daging, namun juga disukai setiap orang!

Belajar dari pengalaman memegang erat Betamax, membuat Sony belajar banyak hal tentang itu, saat ini Sony sedang menggodok format DVD Blu-ray yang kapasitasnya mencapai 4x DVD biasa dengan menggalang dukungan berbagai pihak termasuk memasuki industri film dan rekaman.

Pfizer, bukannya frustrasi dengan efek samping yang tadinya mengganggu itu, malahan mendalami kesalahan mereka. Apa yang membuat efek samping yang menyebabkan ereksi hebat itu? Alih-alih membuat obat nyeri dada, mereka menciptakan Viagra, obat pertama untuk disfungsi ereksi, yang berkat obat itu membuat harga saham mereka meroket berkali-kali lipat.

Jadi, dari artikel yang lumayan padat itu, saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah bahwa sebuah kesalahan bisa dilihat dari berbagai sisi. Dan apabila kita melihat dari sis tersebut dan mengambil hal positif darinya, bukan hal yang tidak mungkin bahwa kesalahan tersebut merupakan berkah yang terselubung buat kita. Dan yang lebih penting lagi dari semua pengalaman perusahaan itu adalah jangan takut untuk berbuat salah. Karena melakukan kesalahan bukan berarti kegagalan. Justru kegagalan absolute adalah ketika berbuat kesalahan tapi tidak mengambil pelajaran darinya dan bahkan berputus asa.