19
Jul
06

Bencana, Apa Artinya?

Rasanya sejak negeri kita diterpa bencana Tsunami yang terjadi di Aceh pada Desember 2004 silam setelah itu rentetan bencana banyak melanda negeri kita. Dan kalau dihitung-hitung dan diamati, hamper semua bencana lengkap telah melanda negeri kita. Sebut saja bencana alam seperi Gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, banjir, kekeringan, sampai luapan lumpur dari perut bumi. Mungkin kalau menurut perkiraan saya, hanya angin tornado sekelas di film Twister yang belum terjadi di negara kita (dan saya berharap memang tidak perlu terjadi). Dan kalau saya mencoba mengingat pelajaran geografi jaman SMP dulu, bencana alam dikategorisasikan menjadi bencana yang berasal dari fenomena alam (Natural Disaster) dan bencana buatan manusia (Man-made Disaster). Gempa bumi itu murni bencana karena fenomena alam namun bencana seperti hutan gundul sehingga menyebabkan longsor dan banjir di musim hujan itulah bencana alam akibat tangan manusia.

Nangis Berbicara tentang bencana, sering kali kita dihadapkan pada pertanyaan“ ada apa dibalik bencana ini?“ apakah ini teguran? Ujian? Atau bahkan hukuman? Dan hal tersebut seringkali terngiang dalam benak saya setiap kali bencana melanda negeri kita. Saya suka bertanya dalam hati dan mencoba menebak-nebak ada apa di balik sebuah bencana. Dan terus terang kadang ada sensasi tersendiri ketika mencoba merumuskan teori kenapa di negeri kita sarat bencana.

Teori yang biasanya muncul pertama kali adalah bahwa bencana itu adalah teguran bagi kita sebagai hukuman karena di negara kita norma susila dan agama sudah luntur. Dengan mudah kita bisa menemukan banyak kemaksiatan di sekitar kita. Dan gilanya kemaksiatan itu sudah seperti barang biasa sehingga kitapun sudah tidak aneh setiap kali berhadapan dengannya. Contoh yang sederhana adalah Judi. Semua yang orang yang normal, berakal sehat, bermoral dan bernurani jernih pasti sadar dan tahu bahwa berjudi itu merupakan perbuatan yang tidak terpuji dan merugikan banyak pihak secara langsung maupun tidak langsung. Paling tidak berpotensi merusak kesejahteraan keluarga pelakunya. Namun di negara kita tidak sulit menemukan sekumpulan orang sedang berkumpul entah main kartu atau memainkan permainan lain dengan nuansa judi. Bahkan judi yang paling mutakhir adalah kuis sms dengan hadiah yang menggiurkan. Semua orang tahu, tetapi tidak peduli.

Teori lain yang mirip-mirip biasanya adalah adanya sekumpulan orang yang berbuat menyimpang, walaupun jumlahnya sedikit/ minoritas, yang tetap dibiarkan melakukan penyimpangan mereka oleh mayoritas masyarakat yang ada di lingkungan tersebut. Secara jujur, hubungan sesama jenis/ homoseksual/ lesbian adalah penyimpangan. Dalam kitab suci dijabarkan bagaima kisah nabi Luth yang umatnya menyukai hubungan sesama jenis dari pada lawan jenis. Sebuah penyimpangan yang jelas-jelas telah dilaknat Allah di masa lalu namun masih ditrolerir dan dicari-cari alasan pembenarannya. Karena merasa terlahir dengan kodrat sebagai orang yang berjenis kelamin lain, sebagai penyakit psikologi, sebagai akibat salah pergaulan, sampai kepada kebebasan asasi. Dengan alasan-alasan tersebut membuat sekumpulan manusia yang mayoritas berperilaku normal membiarkan hal-hal semacam itu terjadi dan bahkan tidak peduli.

Teori lainnya adalah bencana yang melanda kita adalah teguran untuk para pemimpin. Banyak kisah masa lalu yang memberikan pelajaran pada kita tentang bagaimana kesalahan seorang pemimpin membawa bencana bagi rakyatnya. Pemimpin itu adalah wakil Tuhan di muka bumi. Sehingga pemimpin itu harus memiliki atau meniru sifat-sifat Tuhan. Yang adil, yang melindungi, yang mendengar, yang mengasihi dan menyayangi. Menjadi pemimpin bukan berarti menjadi orang yang bisa semau gue. Yang hanya mengurusi urusan gue, dan melindungi komplotan gue. Pemimpin yang tidak adillah sumber bencana, sumber murka Tuhan kepada pemimpin suatu kaum.

Kalau yang saya tulis sebelumnya kebanyakan mengenai bencana sebagai teguran atau hukuman, bencana juga bisa merupakan berkah bagi yang mengalaminya. Teorinya, sebuah kaum yang mengalami bencana bisa dikatakan bahwa kaum tersebut sedang melewati ujian untuk peningkatan harkat martabat serta derajatnya di masa yang akan datang. Kemungkaran, kebobrokan memang banyak terjadi di negara kita namun tanpa menutup kenyataan, banyak juga kebaikan dan keikhlasan hati yang ada di negeri ini. Keikhlasan hati dan kebaikan yang dimiliki oleh orang-orang biasa, orang-orang yang menjadikan bencana membuat dia semakin ingat kepada-Nya sehingga meningkatkan amal ibadahnya di dunia.

Teori hikmah bencana lainnya adalah bencana menyelamatkan orang-orang yang dikasihi Allah. Di tengah banyaknya kemaksiatan yang terjadi, rasanya bisa jadi juga bencana didatangkan untuk menghindarkan orang-orang baik dari terjerumus ke dalam kemaksiatan yang terjadi. Orang-orang baik ini bisa siapa saja dan dari kalangan mana saja, yang kalau dibiarkan hidup di tengah kemaksiatan akan menjerumuskannya atau bahkan menyengsarakan mereka.

Banyak sekali interpretasi yang bisa timbul dari setiap adanya bencana. Namun semuanya itu dikembalikan lagi ke masing-masing orang. Seharusnya, kita tidak perlu menunggu bencana untuk merubah perilaku kita. Bencana bisa datang kapan saja, dimana saja dan dengan alasan apa saja. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani hidup kita dalam koridor tuntunan yang telah digariskan secara konsisten terlepas bencana itu akan menimpa atau tidak. Tidak ada yang dipertaruhkan dengan menjaga perilaku kita untuk menjadi hamba yang baik di muka bumi ini. Bencana bisa jadi hanya media komunikasi yang efektif dari Sang Pencipta kepada makhluk yang tidak tahu apa-apa ini, seperti saya, dan juga mungkin anda.




0 Responses to “Bencana, Apa Artinya?”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.