Archive for December, 2006
We Will (Still) Survive…
Entah apa yang sedang terjadi di negeri kita ini, hampir di saat yang bersamaan, kita semua di hadapkan kepada dua skenario kisah cinta anak manusia yang saling bertolak belakang. Hal ini saya angkat bukan karena saya tiba-tiba jadi pemerhati kehidupan selebritis, namun karena akhir pekan kemarin saya terlalu banyak dicekoki dua berita yang memenuhi layar kaca kita. Maksud hati beristirahat sambil bermain dengan anak, namun tayangan-tayangan tentang perkawinan kedua Aa Gym dan skandal seks Yahya Zaini dengan Maria Eva sempat menyita perhatian saya.
Yang menyita perhatian saya bukan karena sensasi bombastisnya pemberitaan tersebut namun kalau mau di telaah lebih jauh bukankah kita sedang dihadapkan kepada dua realitas kehidupan yang bertolak belakang?
Pernikahan Aa Gym yang kedua dengan janda beranak tiga lebih banyak mengusik para ibu-ibu termasuk ibu-ibu jemaah Aa gym sendiri, padahal tidak ada yang salah dengan pernikahan itu, sesuatu yang sesuai kaidah agama, sesuai dengan tuntunan perisalah agama, resmi, bertanggung jawab dan dari pemberitaan yang ada, ada restu dari teh ninih, istri pertama Aa.
Perselingkuhan Bapak Yahya Zaini dengan penyanyi dangdut Maria Eva yang lebih didasari oleh nafsu dan juga bejat karena diberitakan sempat melakukan aborsi, ditanggapi adem ayem saja oleh para Ibu-ibu juga. Bedanya ada nuansa politis yang kental di dalamnya, karena dikaitkan dengan pengalihan perhatian terhadap masalah yang sedang dihadapi seorang petinggi partai tertentu.
Tidak ada yang salah dari pernikahan Aa. Dalam Islam, melakukan poligami memang diperbolehkan dengan ketentuan-ketentuan dan syarat tertentu. Dalam Al-Qur’an sendiri secara tegas disebutkan
"Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (QS An-Nisa:3)
Bahkan Al-qur’an dengan tegas menyatakan bahwa seseorang tidak dapat berbuat adil sehingga harus diperingatkan dalam ayat yang artinya “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri( mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [An Nisaa’:129]
Poligami bukan hanya diakomodasi oleh Islam, kaum-kaum sebelum Jaman Islam sudah melakukannya bahkan para Nabi sendiri pun melakukannya. Jika kita baca Alkitab, kita akan mengetahui bahwa ternyata banyak Nabi mau pun orang biasa yang diurapi(diberkahi) Tuhan melakukan poligami. Daud sampai beristri 100 orang, Salomon 1000 orang, Yakub 4, Abraham selain punya 2 istri (Sarah dan Hagar) juga punya beberapa gundik. Silahkan baca Alkitab: I Raja-Raja 11:1-3, Kejadian 29:28-30, I Tawarikh 14:3, Tawarikh 3:1-9.
Kelompok Islam Liberal yang mengharamkan poligami tidak melihat ayat di atas dan kenyataaan bahwa Nabi Muhammad dan juga nabi-nabi sebelumnya berpoligami. Sering orang-orang sekuler menolak syariat Islam dengan alasan negara tidak berhak campur tangan dalam masalah agama. Tapi ketika bicara poligami, mereka meminta negara melarang poligami. Sebaliknya mereka justru menolak jika negara melarang pelacuran dengan berbagai alasan. Pada RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi mereka menolak pemerintah melarang warganya berciuman di depan umum atau selingkuh dengan alasan itu masalah pribadi. Sekarang justru mereka meminta negara melarang poligami yang juga adalah masalah pribadi. Mungkin itulah tanda-tanda yang ditunjukkan mengenai orang yang tidak beriman, yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.
Ada kalangan perempuan juga tidak setuju poligami karena akan menyengsarakan dan menyakiti hati sang istri. Sekarang pertanyaannya, bagaimana bila sang istri ridha? Bagaimana bila teh ninih memang ridha dengan pernikahan Aa Gym yang kedua? Teh Ninih dengan landasan ilmu agamanya, pasti lebih memahami permasalahan ini dari kaum perempuan sekuler lainnya yang lebih senang kaumnya ditiduri semalam lalu dibayar daripada dinikahi secara bertanggungjawab. Yang mana lebih sakit bila mereka membandingkan bila suaminya menikah lagi dengan restu dia atau secara serampangan melakukan selingkuh dan perbuatan mesum di luar sana?
Berikut ini saya mengutip tulisan seorang teman dalam emailnya:
Pada poligami, seorang pria harus adil kepada semua istrinya. Adil ini tentu dalam batas kemampuan manusia, seperti jatah hari, atau pun pemberian materi. Bukan sesuatu hal yang di luar jangkauan kemampuan manusia. Suami bertanggung- jawab memenuhi nafkah lahir dan batin serta melindungi semua istrinya, dan juga anak-anaknya. Pada perselingkuhan mau pun pelacuran, pada dasarnya terjadi hubungan seks antara satu pria dengan banyak wanita seperti pada poligami. Tapi pada perselingkuhan dan pelacuran, tidak ada tanggung-jawab bagi pria mau pun wanita. Sang pria tidak harus memberi nafkah lahir dan batin, kecuali hanya pada saat kesenangan sesaat. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Terkadang sebagian manusia merasa sombong sehingga mengharamkan apa yang Allah halalkan.
“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,[QS. Al Fath 48.4].
Ulama besar, Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi, dalam bukunya, “Halal dan Haram dalam Islam” menulis: “Islam telah menentukan keperluan perorangan dan masyarakat, dan menentukan ukuran kepentingan dan kemaslahatan manusia seluruhnya. Di antara manusia ada yang ingin mendapat keturunan tetapi sayang isterinya mandul atau sakit sehingga tidak mempunyai anak. Bukankah suatu kehormatan bagi si isteri dan keutamaan bagi si suami kalau dia kawin lagi dengan seorang wanita tanpa mencerai isteri pertama dengan memenuhi hak-haknya”
Sementara ada juga laki-laki yang mempunyai nafsu seks yang luar biasa, tetapi isterinya hanya dingin saja atau sakit, atau masa haidhnya (atau kehamilan “penulis) itu terlalu panjang dan sebagainya, sedang si laki-laki tidak dapat menahan nafsunya lebih banyak seperti orang perempuan. Apakah dalam situasi seperti itu si laki-laki tersebut tidak boleh kawin dengan perempuan lain yang halal sebagai tempat mencari kawan tidur” Dan ada kalanya jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki, lebih-lebih karena akibat dari peperangan yang hanya diikuti oleh laki-laki dan pemuda-pemuda. Maka di sini poligami merupakan suatu kemaslahatan buat masyarakat dan perempuan itu sendiri, sehingga dengan demikian mereka akan merupakan manusia yang bergharizah yang tidak hidup sepanjang umur berdiam di rumah, tidak kawin dan tidak dapat melaksanakan hidup berumahtangga yang di dalamnya terdapat suatu ketenteraman, kecintaan, perlindungan, nikmatnya sebagai ibu dan keibuan sesuai pula dengan panggilan fitrah.
Saya rasa untuk saat ini lupakan dulu masalah poligami, jalani saja kehidupan monogami masing-masing dengan sebaik-baiknya. Tuntun keluarga ke jalan yang diridhai Allah, SWT. Percuma menolak poligami kalau ber-monogami saja tidak becus. Di luar selingkuh ataupun melakukan perceraian.
Jadi mending mana antara Aa Gym dan Yahya Zaini?
==================================================================
Dengan tulisan ini, saya curiga ada yang berpendapat saya akan berpoligami, untuk itu kita ukur feasibilitas poligami antara Eka dan Aa Gym :
Sisi Materi
Aa : Perusahaan banyak, penghasilan besar, kesibukan luar biasa. Jadi kalo Aa harus menanggung dua istri ditambah sepuluh orang anak, rasanya Aa akan baik-baik saja deh.
Eka : Gak punya perusahaan, gaji seadanya, kesibukan tidak sebanding dengan bayaran aka underpaid. Gak usah nanya kalo Eka punya istri dua, baru satu aja mau kredit rumah, mobil ama barang-barang konsumsi udah empot-empotan.
Sisi Rohani atau Ilmu agama
Aa : hmmm… ada yang meragukan gitu?
Eka : pantas diragukan. Gak usah nanya deh, pada ngeledek loe ya!
Sisi membina keluarga
Aa : Nikah beberapa tahun, anak tujuh. Semuanya baik-baik saja.
Eka : Nikah setahun, anak Satu. Itu aja masih suka kagok kalo si anak buang air di saat istri tidak di rumah, pembantu lagi pergi ke pasar.
Jadi apakah Eka mau poligami? Jauuuuuuuuhhh………..
Lelaki Sejati
Sebuah renungan dari Sahabat…
Aku bertanya pada Bunda, bagaimana menjadi lelaki sejati?

Bunda menjawab, "Nak…., Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya… Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran…. Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat disekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa… Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah… Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan… Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,tetapi dari hati yang ada dibalik itu…. Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya…
Pay It Forward (2000)

Masih ingat film the Sixth Sense? Yang suka film itu pasti ingat acting kerennya Haley Joel Osment, anak ajaib yang aktingnya oke banget. Dan akting oke itu juga ditunjukkan di film Pay It Forward, sebuah film yang menakjubkan. Pay It Forward berkisah tentang seorang anak kecil berumur 11 tahun, Trevor McKinney (Haley Joel Osment), yang mengerjakan proyek ilmu social yang diberikan oleh gurunya, Eugene Simonet (Kevin Spacey), yang menantang mereka untuk merubah dunia. Idenya sederhana saja, Simonet ingin menantang sang anak didik untuk peduli kepada lingkungannya dan kepada dunia tempat mereka hidup. Tantangan tersebut menginspirasi Trevor untuk mencari ide merubah dunia.
Film ini sangat menginspirasi saya karena mengajarkan tentang kebaikan yang diterapkan dalam kehidupan nyata. Semangatnya adalah kita jangan selalu berharap dunia akan berubah tanpa ada tindakan nyata dari kita. Trevor ingin mengajak semua orang memahami bahwa “the world ain’t shit” jika kita mau berbuat baik dan peduli kepada orang lain. Berbagai tantangan dihadapi oleh Trevor dalam mewujudkan proyeknya ini bahkan sempat membuat dia putus asa. Tetapi tanpa disadari, sebuah tindakan yang dirintisnya telah menjadi bola salju yang berdampak pada kehidupan orang lain yang jauh darinya, yang semakin lama semakin berkembang.
Pay it forward sebenarnya adalah konsep social untuk menciptakan efek bola salju sebuah perubahan. Bila setiap orang melakukan perbuatan baik, menolong setidaknya tiga orang lain dan masing-masing orang yang ditolongnya melakukan terhadap tiga orang lainnya, maka semakin lama efek dari kebaikan yang telah dilakukan akan berlipat-lipat dampaknya yang diharapkan dari tindakan tersebut dapat merubah dunia menjadi lebih baik. Maka bayarlah terlebih dahulu dari diri sendiri bila ingin menjadikan dunia lebih baik.
Film ini didukung oleh bintang-bintang seperti Helen Hunt (Twister, As Good As it Gets) yang berperan sebagai Arlene McKinney, ibu Trevor; Chris Chandler dan juga Jon Bon Jovi, sebagai ayah Trevor yang berperangai buruk. Beberapa penghargaan dan nominasi di ajang festival film juga diperoleh oleh film ini. Memang diakui bahwa tema dan jenis dari film seperti Pay It Forward ini tidak selalu memperoleh sambutan yang luar biasa dan memenuhi selera penonton. Bahkan mungkin bisa sangat membosankan bagi sebagian orang, namun bila ingin menghibur diri dengan melihat how simple idea works and makes difference, tidak ada salahnya menyaksikan film ini.
Beragama tapi Korupsi
Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
"Cak Nun", kata sang penanya,
"misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?".
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan".
"Tapi sampeyan
kan dosa karena tidak sembahyang?" ,kejar si penanya.
"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun.
"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk
surga tidak ngajak-ngajak" , katanya lagi. "Dan lagi belum tentu
Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan
sembahyang sebagai credit point pribadi".
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan:
kalau engkau menolong orang sakit,
Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian,
Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan,
Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,
menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga , orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?" …
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal,
tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum
layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas).
Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
Ekstrinsik Vs Intrinsik
Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial. Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah
penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.
Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.
Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, …kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan .
Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis. Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.
Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.
by : Emha Ainun Najib

Recent Comments