Entah apa yang sedang terjadi di negeri kita ini, hampir di saat yang bersamaan, kita semua di hadapkan kepada dua skenario kisah cinta anak manusia yang saling bertolak belakang. Hal ini saya angkat bukan karena saya tiba-tiba jadi pemerhati kehidupan selebritis, namun karena akhir pekan kemarin saya terlalu banyak dicekoki dua berita yang memenuhi layar kaca kita. Maksud hati beristirahat sambil bermain dengan anak, namun tayangan-tayangan tentang perkawinan kedua Aa Gym dan skandal seks Yahya Zaini dengan Maria Eva sempat menyita perhatian saya.
Yang menyita perhatian saya bukan karena sensasi bombastisnya pemberitaan tersebut namun kalau mau di telaah lebih jauh bukankah kita sedang dihadapkan kepada dua realitas kehidupan yang bertolak belakang?
Pernikahan Aa Gym yang kedua dengan janda beranak tiga lebih banyak mengusik para ibu-ibu termasuk ibu-ibu jemaah Aa gym sendiri, padahal tidak ada yang salah dengan pernikahan itu, sesuatu yang sesuai kaidah agama, sesuai dengan tuntunan perisalah agama, resmi, bertanggung jawab dan dari pemberitaan yang ada, ada restu dari teh ninih, istri pertama Aa.
Perselingkuhan Bapak Yahya Zaini dengan penyanyi dangdut Maria Eva yang lebih didasari oleh nafsu dan juga bejat karena diberitakan sempat melakukan aborsi, ditanggapi adem ayem saja oleh para Ibu-ibu juga. Bedanya ada nuansa politis yang kental di dalamnya, karena dikaitkan dengan pengalihan perhatian terhadap masalah yang sedang dihadapi seorang petinggi partai tertentu.
Tidak ada yang salah dari pernikahan Aa. Dalam Islam, melakukan poligami memang diperbolehkan dengan ketentuan-ketentuan dan syarat tertentu. Dalam Al-Qur’an sendiri secara tegas disebutkan
"Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (QS An-Nisa:3)
Bahkan Al-qur’an dengan tegas menyatakan bahwa seseorang tidak dapat berbuat adil sehingga harus diperingatkan dalam ayat yang artinya “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri( mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [An Nisaa’:129]
Poligami bukan hanya diakomodasi oleh Islam, kaum-kaum sebelum Jaman Islam sudah melakukannya bahkan para Nabi sendiri pun melakukannya. Jika kita baca Alkitab, kita akan mengetahui bahwa ternyata banyak Nabi mau pun orang biasa yang diurapi(diberkahi) Tuhan melakukan poligami. Daud sampai beristri 100 orang, Salomon 1000 orang, Yakub 4, Abraham selain punya 2 istri (Sarah dan Hagar) juga punya beberapa gundik. Silahkan baca Alkitab: I Raja-Raja 11:1-3, Kejadian 29:28-30, I Tawarikh 14:3, Tawarikh 3:1-9.
Kelompok Islam Liberal yang mengharamkan poligami tidak melihat ayat di atas dan kenyataaan bahwa Nabi Muhammad dan juga nabi-nabi sebelumnya berpoligami. Sering orang-orang sekuler menolak syariat Islam dengan alasan negara tidak berhak campur tangan dalam masalah agama. Tapi ketika bicara poligami, mereka meminta negara melarang poligami. Sebaliknya mereka justru menolak jika negara melarang pelacuran dengan berbagai alasan. Pada RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi mereka menolak pemerintah melarang warganya berciuman di depan umum atau selingkuh dengan alasan itu masalah pribadi. Sekarang justru mereka meminta negara melarang poligami yang juga adalah masalah pribadi. Mungkin itulah tanda-tanda yang ditunjukkan mengenai orang yang tidak beriman, yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.
Ada kalangan perempuan juga tidak setuju poligami karena akan menyengsarakan dan menyakiti hati sang istri. Sekarang pertanyaannya, bagaimana bila sang istri ridha? Bagaimana bila teh ninih memang ridha dengan pernikahan Aa Gym yang kedua? Teh Ninih dengan landasan ilmu agamanya, pasti lebih memahami permasalahan ini dari kaum perempuan sekuler lainnya yang lebih senang kaumnya ditiduri semalam lalu dibayar daripada dinikahi secara bertanggungjawab. Yang mana lebih sakit bila mereka membandingkan bila suaminya menikah lagi dengan restu dia atau secara serampangan melakukan selingkuh dan perbuatan mesum di luar sana?
Berikut ini saya mengutip tulisan seorang teman dalam emailnya:
Pada poligami, seorang pria harus adil kepada semua istrinya. Adil ini tentu dalam batas kemampuan manusia, seperti jatah hari, atau pun pemberian materi. Bukan sesuatu hal yang di luar jangkauan kemampuan manusia. Suami bertanggung- jawab memenuhi nafkah lahir dan batin serta melindungi semua istrinya, dan juga anak-anaknya. Pada perselingkuhan mau pun pelacuran, pada dasarnya terjadi hubungan seks antara satu pria dengan banyak wanita seperti pada poligami. Tapi pada perselingkuhan dan pelacuran, tidak ada tanggung-jawab bagi pria mau pun wanita. Sang pria tidak harus memberi nafkah lahir dan batin, kecuali hanya pada saat kesenangan sesaat. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Terkadang sebagian manusia merasa sombong sehingga mengharamkan apa yang Allah halalkan.
“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,[QS. Al Fath 48.4].
Ulama besar, Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi, dalam bukunya, “Halal dan Haram dalam Islam” menulis: “Islam telah menentukan keperluan perorangan dan masyarakat, dan menentukan ukuran kepentingan dan kemaslahatan manusia seluruhnya. Di antara manusia ada yang ingin mendapat keturunan tetapi sayang isterinya mandul atau sakit sehingga tidak mempunyai anak. Bukankah suatu kehormatan bagi si isteri dan keutamaan bagi si suami kalau dia kawin lagi dengan seorang wanita tanpa mencerai isteri pertama dengan memenuhi hak-haknya”
Sementara ada juga laki-laki yang mempunyai nafsu seks yang luar biasa, tetapi isterinya hanya dingin saja atau sakit, atau masa haidhnya (atau kehamilan “penulis) itu terlalu panjang dan sebagainya, sedang si laki-laki tidak dapat menahan nafsunya lebih banyak seperti orang perempuan. Apakah dalam situasi seperti itu si laki-laki tersebut tidak boleh kawin dengan perempuan lain yang halal sebagai tempat mencari kawan tidur” Dan ada kalanya jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki, lebih-lebih karena akibat dari peperangan yang hanya diikuti oleh laki-laki dan pemuda-pemuda. Maka di sini poligami merupakan suatu kemaslahatan buat masyarakat dan perempuan itu sendiri, sehingga dengan demikian mereka akan merupakan manusia yang bergharizah yang tidak hidup sepanjang umur berdiam di rumah, tidak kawin dan tidak dapat melaksanakan hidup berumahtangga yang di dalamnya terdapat suatu ketenteraman, kecintaan, perlindungan, nikmatnya sebagai ibu dan keibuan sesuai pula dengan panggilan fitrah.
Saya rasa untuk saat ini lupakan dulu masalah poligami, jalani saja kehidupan monogami masing-masing dengan sebaik-baiknya. Tuntun keluarga ke jalan yang diridhai Allah, SWT. Percuma menolak poligami kalau ber-monogami saja tidak becus. Di luar selingkuh ataupun melakukan perceraian.
Jadi mending mana antara Aa Gym dan Yahya Zaini?
==================================================================
Dengan tulisan ini, saya curiga ada yang berpendapat saya akan berpoligami, untuk itu kita ukur feasibilitas poligami antara Eka dan Aa Gym :
Sisi Materi
Aa : Perusahaan banyak, penghasilan besar, kesibukan luar biasa. Jadi kalo Aa harus menanggung dua istri ditambah sepuluh orang anak, rasanya Aa akan baik-baik saja deh.
Eka : Gak punya perusahaan, gaji seadanya, kesibukan tidak sebanding dengan bayaran aka underpaid. Gak usah nanya kalo Eka punya istri dua, baru satu aja mau kredit rumah, mobil ama barang-barang konsumsi udah empot-empotan.
Sisi Rohani atau Ilmu agama
Aa : hmmm… ada yang meragukan gitu?
Eka : pantas diragukan. Gak usah nanya deh, pada ngeledek loe ya!
Sisi membina keluarga
Aa : Nikah beberapa tahun, anak tujuh. Semuanya baik-baik saja.
Eka : Nikah setahun, anak Satu. Itu aja masih suka kagok kalo si anak buang air di saat istri tidak di rumah, pembantu lagi pergi ke pasar.
Jadi apakah Eka mau poligami? Jauuuuuuuuhhh………..
Recent Comments