Minggu yang lalu, saya bersama istri saya menyempatkan diri untuk menonton film Nagabonar jadi 2 di Cineplex. Film ini merupakan sekuel dari film Nagabonar produksi 1986 yang pada waktu itu sukses di pasaran dan menyabet piala Citra (FFI) tahun 1987. Mungkin film ini menjadi eksepsional bagi saya untuk menyaksikan film Indonesia di sebuah Sineplek yang harganya lumayan mahal juga ya. Biasanya saya kurang berkenan nonton film Nasional di Bioskop kecuali waktu kecil, jaman-jaman nonton film warkop atau perjuangan bareng-bareng satu sekolahan pas SD. Kenapa tertarik? Entahlah ada sesuatu dalam film ini pikirku.
Dan ternyata benar, Nagabonar jadi 2 bukan sekedar film Indonesia biasa. Film hasil produksi kerjasama antara PT Demi Gisela Citra Sinema dengan PT Bumi Prasidi Bi-Epsi ini benar-benar menarik dan wajib menjadi tontonan anak bangsa. Film yang dipersembahkan untuk alm Drs. Asrul Sani, pereka tokoh Nagabonar, seorang mantan copet yang diangkat menjadi Jenderal saat perang kemerdekaan ini diperankan oleh Deddy Mizwar sebagai Nagabonar dan Tora Sudiro sebagai Bonaga, anak semata wayang Nagabonar. Kehadiran mereka menjadi daya tarik film ini. Tetapi bukan hanya itu, kehadiran Wulan Guritno, Ibu muda nan cantik itu, sebagai Monita juga menjadi daya tarik sendiri. Belum lagi bintang-bintang pendukung lainnya baik sebagai supporting actor maupun tampil cameo membuat film ini unik.
Film ini menceritakan kehidupan Nagabonar setelah perang kemerdekaan dimana dia dianugerahi anak semata wayang yang harus dia besarkan sendiri setelah kematian istrinya. Di film ini digambarkan bahwa Nagabonar tinggal di Medan, hidup sendiri di tengah hamparan kebun kelapa sawit miliknya. Kegiatannya saat ini adalah merawat kuburan milik orang-orang yang dicintainya: Kirana, istrinya, Mak-nya, dan si Bujang, sahabat dekatnya yang telah dilarangnya bertempur tetapi bertempur juga, dimakan cacinglah dia. Sedangkan anaknya, Bonaga, pengusaha muda lulusan Inggris hidup di Jakarta. Bersama teman-temannya : Pomo (Darius Sinathrya), Jaki (Michael Mulyadro), dan Ronnie (Uli Herdinansyah) mereka mengelola bisnis strategis. Konflik utama muncul ketika Bonaga dan teman-temannya menyampaikan ide kepada Nagabonar untuk menjual kebun kelapa sawit miliknya untuk dijadikan resort. Nagabonar marah, “engkau bukan anakku, anakku tidak akan berpikir untuk menjual kuburan moyangnya” sahutnya kepada Bonaga. Nagabonar lebih marah ketika mengetahui bahwa kerjasama akan dilakukan dengan Jepang. Di tengah kemarahannya itu Nagabonar ngelayap sendirian di tengah belantara beton Jakarta menggunakan Bajaj. Beruntung dia bertemu dengan seorang tukang bajaj yang baik hati, Umar (Lukman Sardi) yang menjemputnya dan mengajaknya keliling Jakarta setiap hari.
Perjalanan Nagabonar keliling Jakarta sangat menarik disimak. Banyak hal yang menggambarkan kepada kita betapa nilai-nilai kepahlawanan, Nasionalisme, dan Humanisme telah luntur di kehidupan kita saat ini. Menyaksikan Nagabonar jadi 2 ini seperti mengingatkan diri saya bahwa Bangsa ini punya sesuatu yang bisa dibanggakan di masa lalu yang saat ini sudah luntur nilainya. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan kenapa di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta harus ada patung Jenderal Sudirman yang sedang memberikan hormat? Memberikan hormat ke siapa? Seharusnya kita ini yang memberikan hormat ke beliau bukan? Bukan hanya nasionalisme dan kepahlawanan yang disindir dalam film ini. Masalah spiritualitas pun ikut disindir. Bagaimana bisa Jaki, rekan Bonaga yang katanya rajin sholat tetapi habis sholat melantai berjoget riang di diskotek setelahnya? Atau melakukan penggelapan pajak?
Banyak nilai yang ingin disampaikan dalam film ini selain tema sentralnya mengenai perseteruan antara ayah dan anak yang beda generasi dan nilai itu. Namun yang harus digarisbawahi adalah perseteruan beda generasi pun ada jalan tengahnya, yang bisa diselesaikan secara manis dan elegan. Saya sangat suka film ini. Akan saya koleksi DVD nya kalau di release nanti.

Recent Comments