Sekitar akhir bulan September yang lalu, saya dan beberapa rekan kantor saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Danone Treasury Conference Asia Pacific yang tahun ini diselenggarakan di Hongkong. Event yang biasanya diadakan setiap tahun ini kini diadakan kembali setelah hamper 2 tahun vacuum karena berbagai project yang ada di region Asia Pacific. Merupakan hal yang baru bagi saya mengunjungi negerinya Jacky Chan ini. Karena hal barunya ini, saya dan rekan-rekan saya sudah mencoba membuat planning jauh-jauh hari agar kesempatan ini tidak hanya terlewatkan sia-sia. Hampir satu minggu lamanya kami menghabiskan waktu di sana. Beberapa hal unik yang terjadi disini. Mungkin kita sudah tahu dari berita-berita maupun media bahwa Hongkong adalah salah satu Negara tujuan pengiriman TKI yang terbesar. Sayangnya TKI yang dikirimkan ke Hongkong dan juga ke sebagian Negara lainnya adalah sebagai buruh kasar ataupun pembantu rumah tangga. Saya rasa itu benar, sejak keberangkatan dari Cengkareng sudah banyak orang-orang sebangsa kita dalam satu pesawat. Kata rekan saya nih, dari penampilannya saja sudah ketahuan mereka ke Hongkong sebagai apa. Hanya segelintir orang saja yang terlihat berangkat dalam rangka liburan atau bisnis (yah, mereka juga dalam rangka bisnis but you know what I mean lah). Tiba di Bandara Hongkong saja sudah beberapa kali terdengar wanita-wanita yang parasnya familiar karena berwajah melayu, dan akan terasa familiar lagi ketika mendengar percakapan yang mereka lakukan… orang jawa medhok… saya langsung berpandangan dengan rekan saya… serasa di Semarang pikir saya.
Tadinya saya pikir ceritanya cukup sampai disitu, hanya bertemu, papasan atau sekedar mendengar percakapan dalam bahasa jawa di MTR (subway) tetapi ada yang lebih membuat geleng-geleng kepala dan membuat kami geli. Mungkin saking banyaknya TKI disana sampai-sampai kami menemukan ada spanduk peringatan dalam bahasa Indonesia yang bertuliskan “mohon tidak duduk atau bersandar di trotoar pejalan kaki” dengan tulisan yang besar dan dominan dibandingkan dengan tulisan lokal.
Tulisan ini membuat geli karena hampir di semua tempat umum yang kami sambangi hampir sulit menemukan peringatan dalam bahasa Indonesia kecuali yang kami temukan di Causeway ay tu. Dari cerita-cerita yang saya dengar memang TKI-TKI kalau pada masa liburan atau weekend suka kongkow-kongkow di taman kota atau pinggir jalan, termasuk di pinggir-pinggir trotoar yang sepertinya kebiasaan tersebut bukan merupakan hal yang umum disana.Di balik kegelian kami ini, saya yakin semuanya bertanya dalam hati, bangga atau malu?
Recent Comments