Archive for February, 2008

22
Feb

Teringat Dulu

Wah sudah mau weekend lagi. Tidak terasa waktu seakan berlari begitu cepat. Yang bisa kurasakan adalah hidup dari weekend ke weekend, waktu yang benar-benar bisa kunikmati untuk diriku sendiri dan keluarga. Terkadang kalau sedang weekend begini saya suka teringat masa-masa dulu saat setiap hari terasa begitu berwarna.

Berwarna kenapa? Karena saya suka merasa menemukan hal baru di setiap harinya. Mungkin seiring usia dan pengalaman hidup yang beranjak banyak, setiap moment dalam perjalanannya jadi terasa biasa ya? Atau karena waktu untuk menikmatinya semakin tidak terasa?

Entah… kadang yang namanya dahulu selalu lebih indah.

15
Feb

Orang-orang kaya di Surga (2)

Tulisan di bawah ini saya ambil dari kiriman seorang teman kepada saya. Semoga bisa menambah keimanan dan kepedulian kita kepada masa depan di akherat kelak.

Kisah "YU TIMAH"

(dicuplik dari RESONANSI - Republika Desember 2006/Ahmad Tohari

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.

Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.

Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.

Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa.

Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lag - lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bias menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor.

Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu  Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”

”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”

”Mau ambil berapa?” tanya saya.

”Enam ratus ribu, Pak.”

”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu.Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?

Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji. Amin

15
Feb

Orang-orang kaya di surga (1)

Tulisan di bawah ini saya ambil dari kiriman seorang teman kepada saya. Semoga bisa menambah keimanan dan kepedulian kita kepada masa depan di akherat kelak.

Terbagi dari 2 tulisan yang isinya mengenai orang-orang yang secara materi di dunia mungkin bukan orang-orang yang beruntung. Tetapi bisa jadi kelak, merekalah para penghuni surga yang memiliki tempat terhormat di sisi-Nya.

====================================================

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban.

Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku,

dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.

Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti,

sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti.

Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang,

ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si pedagang bertahan.

" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama

" Maaf pak, masih jauh. " ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku

" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek

" Yang sedang mahal

kan

harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?"

ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri.

Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput"

kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu.

Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil.

Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya.

Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian

" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus

lima

puluh ribu rupiah" katanya

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi.

Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum

" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek. " kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

" Weleh larang men regane (mahal benar harganya)?" kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan " bisa di tawar-kan ya mas?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.

" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang terlihat semakin malas meladeni.

" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)

Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas. " katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang

lima

puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi.

Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek,

kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

" Kek, ini ada lebih

lima

puluh ribu rupiah" si pedagang mengeluarkan selembar

lima

puluh ribuan

" Ora ono ongkos kirime tho…?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagangyangcukup jujur memberikan

lima

puluh ribu ke kakek " mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)

" Alhamdulillah, lewih (lebih)

lima

puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya " tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya),

sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman,

takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti,

InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu). "

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku.

Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku.

Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol,

sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.

Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek.

Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah,

rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.

Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.

Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus

Tapi apa yang aku pikirkan?

Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana.

Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu

11
Feb

Jalan-jalan ke Lembah Lolipop

Pagi ini saya memperoleh email inspirasi dari teman saya, Tia. Dari ceritanya, saya merasa terenyuh dengan kisahnya. karena tanpa saya sadari, saya terkadang merasa telah menjadi Bob, yang asik berlari sambil mengumpulkan permen. Ternyata kalau dicermati lebih dalam, alangkah indahnya berpola perilaku seperti Bib yang menikmati apa yang ada di depannya.

Semoga cerita di bawah ini memberi inspirasi yang sama kepada pembacanya sama seperti apa yang telah saya rasakan.

=============================================

Lolipop Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lollipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya.

Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop.

Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih suka rasa mangga? Itu juga lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi

Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya."

"Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!"

Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia."

Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali."

Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

================================================

"The best thing about the future is that it comes only one day at a time"

- Abraham Lincoln -

"No man is rich enough to buy back his past"

- Oscar Wilde - 

09
Feb

Terpikir Dian Sastro

Diansastro Di sela-sela waktu senggang saya, saya suka melakukan browsing di internet, mengunjungi beberapa situs maupun hanya mengecek beberapa account email saya. Masuk dari satu email ke email lainnya, membaca posting-posting dari mailing list yang saya ikuti. Dari mailing list- mailing list yang saya ikuti itu setidaknya saya memperoleh informasi baru, pandangan baru maupun berita-berita iseng baru.

Baru saja ada yang menarik perhatian saya mengenai penolakan Masyarakat Film Indonesia (MFI) terhadap Lembaga Sensor Film (LSF) yang disampaikan dalam sidang perkara Mahkamah Konstitusi yang sedang menguji materi Undang-undang no. 8 tahun 1992 tentang Perfilman terhadap UUD 1945. Permohonan keberatan diajukan oleh Riri Riza, Nia Dinata, Shanty, Rois Amriradhiani, dan Tino Saroengallo.

Penolakan terhadap LSF disebabkan karena LSF bukanlah penjaga moral anak, yang bertanggung jawab untuk menjaga moral anak adalah orang tua mereka. LSF dinilai sebagai lembaga yang mengekang kebebasan berekspresi yang pada prakteknya saat ini, LSF terkadang menghilangkan esensi dari sebuah film. Saya sebagai penikmat tayangan film, TV maupun Layar lebar, dalam maupun luar negeri bertanya-tanya dengan keberatan tersebut. Saya merasa selama ini tidak berkeberatan dengan adanya LSF bahkan seharusnya berterima kasih karena berarti adanya LSF menjamin isi dari sebuah tayangan disesuaikan dengan audience yang akan menontonnya. Mungkin saya terlalu bodoh dan mereka terlalu pintar sehingga saya kurang melihat esensinya apabila dinyatakan bahwa LSF menghambat kreativitas mereka. Menurut pemikiran saya, dengan adanya aturan mengenai tayangan dan tanggung jawab social kepada masyarakat dari sebuah karya justru harusnya membuat mereka semakin kreatif menciptakan karya yang mendidik masyarakat namun menarik.

Namun concern saya sebenarnya bukan ke arah penolakan itu, tetapi ada pernyataan dari artis cantik, Dian Sastrowardoyo yang berkomentar bahwa " Dengan adanya sensor film, kecerdasan bangsa Indonesia Nol!" Wow, itu sebuah penyataan yang menyakitkan, Dian sayang. Entah orang lain yang mendengarnya tapi buat saya, itu cukup mnyekitkan dan melecehkan. Saya merasa saya dan masyarakat Indonesia lainnya punya akal pikiran dan pilihann untuk memperoleh informasi dan sumber untuk mencerdaskan bangsa bukan hanya film. Film hanyalah sebuah media, bagian dari banyaknya media informasi saat ini. Jadi bila ada film yang disensor tidak menjadikan masyarakat Indonesia bodoh atau terbelakang, tetapi mungkin pundi-pundi finansial bisnis film yang berkurang. Saya rasa alasannya menjadi naif menolak adanya sensor film. Di negara liberal semacam Amerika ataupun Inggris pun ada lembaga sensor. Seharusnya adanya LSF bukan menjadikan kreatifitas mereka menjadi mati, melainkan harusnya menjadi lebih kreatif dari standar yang mereka tetapkan. Jadi, Dian, saya sangat kecewa dengan pernyataan kamu. Saya merasa saya punya pilihan untuk menonton film manapun, jenis apapun, baik dengan adanya LSF maupun tidak adanya LSF. Dan seperti saya, jutaan masyarakat Indonesia lainnya pun sama. Masih banyak media lain yang bisa mencerdaskan bangsa ini dan kami masih punya pemikiran yang sehat tanpa menonton film-film yang disensor. Seharusnya berterima kasihlah kita kepada LSF yang peduli terhadap isi tayangan yang akan disuguhkan kepada masyarakat. Memang bukan mereka yang bertanggungjawab terhadap moral anak-anak kita, namun dengan adanya merekalah kita yang memiliki anak merasa aman dan nyaman bahwa sudah ada orang diluar sana yang sudah memeriksa tayangan yang akan ditonton oleh anak-anak kita.

Malam ini saya terpikirkan Dian, bukan karena dia loncat kesana kemari dalam iklan sebuah provider seluler, tapi karena pernyataannya yang melecehkan saya dan jutaan anak bangsa lainnya.

08
Feb

Untuk Siapa?

Hongkong2Untuk siapa sih kita hadir di dunia ini? Apakah kita hadir untuk diri kita sendiri, hadir untuk orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita? Untuk anak cucu kita demi kelangsungan hidup mereka atau kita lahir untuk membawa perubahan di dunia ini?

Saat ini pertanyaan semacam itulah yang sedang hadir dalam pikiran saya. Hampir setiap pagi aktivitas saya bangun, mandi, siap-siap ke kantor, main sebentar dengan anak saya, trus pamit dengan istri dan anak saya untuk berangkat ke kantor. Di kantor saya bekerja dengan apa yang sudah ditugaskan dan diserahkan  kepada saya dengan usaha terbaik dan bertanggung jawab. Pulang kadang sampai malam. Begitu juga keesokan harinya. Terus terus dan terus. Sampai pada akhirnya saya bertumbuk pada pertanyaan tersebut. Untuk siapa?

Mungkin beberapa orang akan mengatakan ya untuk Allah SWT, sebagai rahmatan lil alamiin. Iya benar, lalu apa yang harus saya lakukan sekarang ini untuk menjadi rahmatan lil alamiin kalau yang saya lakukan setiap harinya aktivitas yang sama. Perubahan apa yang akan terjadi?

Saya mencoba mencari file lama saya di sela-sela sudut jaringan otak saya. Saya pernah ikut sebuah training mengenai 7 habits-nya Stephen Covey. Disitu ada tips bagaimana kita membagi waktu kita untuk menjalankan apa yang menjadi peran kita dalam hidup. Kalau seingat saya ada peran-peran semacam peran sebagai seorang anak, peran sebagai seorang kakak, peran sebagai seorang pekerja, peran sebagai seorang Ayah, peran sebagai seorang teman, sahabat dan lainnya. Begitu banyak peran yang kita harus lakukan dan jalankan di dunia ini. Dan waktu yang dimiliki terbatas. Saya teringat analogi yang disampaikan oleh Stephen Covey kala itu tentang bagaimana dia meminta peserta training nya untuk memasukkan batu, kerikil, dan pasir ke dalam suatu wadah tanpa tersisa. Beberapa mencoba dan gagal. Akhirnya Stephen mencontohkan bagaimana dia memasukkan batu-batu yang besar dulu ke wadah, lalu kerikil-kerikil dan terakhir pasir dan dengan cara itu ternyata wadahnya cukup.

Akhirnya Covey menceritakan analoginya bahwa batu-batu itu mencerminkan tujuan-tujuan besar dari hidup kita seperti misalnya, menikah, punya anak, bersekolah, dan semacamnya sedangkan kerikil-kerikil itu seperti misalnya kita melakukan pekerjaan kita, berorganisasi, dan yang pasir seperti aktivitas lainnya seperti berbelanja, jalan-jalan. Untuk masing-masing orang mana batu, mana kerikil dan mana pasir mungkin akan sangat berbeda-beda namun pada intinya Covey mencoba menjelaskan cara untuk menjalankan peran kita sesuai dengan prioritasnya dalam hidup kita.

Saya, dalam beberapa waktu terakhir mungkin bukan kakak yang baik bagi adik-adik saya karena saya merasa sudah lama saya tidak memperhatikan mereka dan menghabiskan waktu bersama. Saya mungkin juga bukan anak yang baik, karena beberapa kali melewatkan saat-saat bersama dengan orang tua saya. Saya mungkin juga bukan teman yang baik karena sudah tidak terhitung saya melewatkan kesempatan menghabiskan waktu bersama mereka.

Dengan pemahaman ini saya mencoba menjawab untuk siapa saya hidup. Mungkin jawabannya belum akan terjawab sekarang, tetapi seperti bermain puzzle, seharusnya sedikit demi sedikit kalau kita mencarinya, pasti gambaran puzzle tersebut akan berwujud seperti yang seharusnya.

=============================================

"The best way to predict your future is to create it"

Stephen R Covey - Author of 7 Habit of highly effective people

07
Feb

Kamu, Kamulah Surgaku

Kamu, kamulah surgaku

By The Rock - Feat. Ahmad Dhani

Tahukah kamu kuciumimu di saat terlelap
Tahukah kamu kudekap kamu saat kamu bermimpi

Tahukah kamu ya cuma kamu pemilik hatiku
Tahukah kamu hatiku ini adalah hatimu

Tahukah kamu di setiap tidurku ku kagumi wajahmu
Nanti kau kan tahu
Nanti kau dengar bahwa aku begitu

Kamu, kamu adalah surga yang ada dalam hidupku dalam kenyataanku
Kamu, aku adalah penghuni surga
Ucapkan salam pada hidup dan mati

Tahukah kamu saat kamu menangis adalah air mata ku yang jatuh berlinang
Tahukah kamu saat kamu tersakiti adalah aku yang pertama terluka

Tahukah kamu ya cuma aku yang punya cinta untukmu
Tahukah kamu ya cuma aku yang rela mati untukmu
============================================

Konon katanya lagu ini dibuat oleh Ahmad Dhani berdasarkan inspirasinya terhadap ketiga anaknya. Dari liriknya maupun video clip dari lagu ini pun menggambarkan betapa lagu ini merupakan penggambaran cinta ayah kepada anaknya. Walaupun bisa juga kamu, kamulah surgaku bisa saja dipersembahkan untuk orang tua, pasangan hidup, pacar maupun sahabat. Lagu yang apik hasil dari kreativitas dan kejeniusan Ahmad Dhani dalam bermusik mungkin. Salut, The Rock!

Dedicated to my son, he is my inspiration to put this lyrics in this blog.

Copy_1_of_image162

04
Feb

3:10 to Yuma

Yuma3:10 to Yuma (Three ten to Yuma) bisa jadi merupakan salah satu film western yang terbaik. Ceritanya memang tipikal sekali dengan film-film western lainnya. Ada bandit, ada jagoan, jago tembak, kejar-kejaran pake Kuda, yah pokoknya khas deh. Yang membuat berbeda dari film 3.10 to Yuma ini adalah kekuatan ceritanya. Saya tadinya kurang tertarik dengan judul dari film ini. 3:10 to Yuma, maksudnya apa ya. Terus terang ketika mulai nonton, saya malas untuk beranjak dari depan layer TV. Benar-benar membuat penasaran bagaimana akhir dari ceritanya.

Ceritanya berkisah tentang seorang pemilik ladang/ rancher yang mantan milisi di perang saudara AS, Daniel Evans (Christian Bale) dalam berjuang untuk mempertahankan peternakannya dan juga memenuhi kebutuhan keluarganya. Suatu ketika, dalam sebuah kebetulan, dia mendapat kesempatan untuk bersama-sama warga kota Bisbee untuk mengirimkan bandit yang paling dicari seluruh negeri, Ben Wade (Russel Crowe), yang tertangkap di kota tersebut, ke Contention untuk dinaikkan ke Kereta Api menuju penjara Yuma. Untuk melaksanakan tugas tersebut Evans dijanjikan untuk memperoleh upah sebesar USD 200. Jumlah yang menurutnya cukup untuk mempertahankan peternakannya dan juga memenuhi kebutuhan keluarganya. Yang menarik adalah yang mengawal Ben Wade adalah warga biasa yang tidak semua adalah penegak hukum. Daniel Evans sendiri walaupun mantan tentara tapi dia hanya memiliki satu kaki. Sehingga ketegangan-ketegangan muncul dalam proses perjalanan menuju Contention.

Ben wade juga bukan penjahat sembarangan. Dia pandai, lihai dan jago tembak pula. Satu persatu tim pengantar dibunuhnya dengan caranya sendiri. Keadaan bertambah runyam dengan kejaran dari gang Ben Wade yang bersikeras untuk membebaskan bos mereka. Cerita dari 3:10 to Yuma ini menjadi berwarna karena ceritanya bukan hanya duel baku tembak antara jagoan dengan penjahat, tetapi bagaimana Daniel Evans yang seorang biasa berkeras untuk melaksanakan tugasnya mengawal Ben Wade untuk dibawa ke Penjara. Bukan tugas yang ringan untuk seorang seperti Dan Evans. Terlebih lagi di saat mereka sudah tinggal menunggu kereta menuju Yuma menjelang pukul tiga lewat sepuluh. Dan Evans dikepung oleh gang Ben Wade yang dibantu warga kota Contention yang tergiur dengan imbalan 200 Dollar untuk membunuh pengawal Ben Wade.

Salah satu plot yang saya suka adalah ketika semua orang mundur untuk mengawal Ben Wade, tapi Evans tetap tidak bergeming bahkan dia minta anaknya yang ikut bersamanya untuk meninggalkannya sambil berkata ingatlah ayahmu, seorang yang mengawal Ben Wade, selagi orang lain tidak ada. Benar-benar mencerminkan jiwa ksatria sejati yang tidak mundur dan gentar dalam tekanan lawan.

Hal yang bisa diambil pelajaran dari film ini adalah bila kita memiliki suatu tujuan capailah tujuan tersebut dengan usaha yang keras dan mulia. Apapun resikonya pantang untuk mundur. Terkadang dibutuhkan pengorbanan diri sendiri untuk mengambil tanggung jawab menciptakan keadaan yang lebih baik.

Bagi yang senang ataupun yang kangen dengan film-film western, 3:10 to Yuma bisa menjadi obat kangen yang menghibur dan menginspirasi.

======================================================

"I ain’t never been no hero, Wade. The only battle I seen, we was in retreat. My foot got shot off by one of my own men. You try telling that story to your boy. See how he he looks at you then"

Daniel Evans (Christian Bale) in 3:10 to Yuma

======================================================

02
Feb

Ku Cinta Kau Apa Adanya

Ku Cinta Kau Apa Adanya

By : Once

Kau boleh acuhkan diri ku,
dan anggap ku tak ada
Tapi tak akan merubah,
perasaan ku, kepada mu

Ku yakin pasti suatu saat,
semua ‘kan terjadi,
kau ‘kan mencintai ku,
dan tak akan pernah, melepas ku

Aku mau mendampingi diri mu,
aku mau cintai kekurangan mu,
selalu bersedia bahagiakan mu,
apapun terjadi,
ku janjikan aku ada.

Kau boleh jauhi diri ku,
namun ku percaya,
kau ‘kan mencintai ku,
dan tak akan pernah,
melepas ku

Aku mau mendampingi diri mu,
aku mau cintai kekurangan mu.
Aku yang rela, terluka,
untuk mu selalu

=====================================================

Lagu yang menyentuh, banyak yang berkomentar terhadap lagu ini sebagai lagu yang mencerminkan kehidupan mereka sendiri. Sebegitu miripnyakah atau sebegitu banyaknya orang yang memiliki nasib seperti dalam lagu ini. Great song by Once.

Once_1 

02
Feb

Blog “I Hate Indon”

Beberapa rekan saya menceritakan ke saya mengenai sebuah blog di Blogger yang isi tulisannya mengenai hal-hal negative tentang Indonesia. Jadi blog “I hate Indon” (http://ihateindon.blogspot.com) ini menempatkan diri sebagai seorang Malaysia yang sangat membenci dan anti terhadap Indonesia. Entah si blogger ini benar-benar orang Malaysia asli atau bahkan orang Indonesia sendiri yang berpura-pura sebagai orang Malaysia yang membenci orang Indonesia , yang jelas isi blog ini sangat provokatif. IndonTeman-teman saya menyerukan untuk beramai-ramai kita “flag” saja blog tersebut supaya si pengelola Blogger dapat segera mengambil tindakan. Saya pikir aksi yang mulia juga, walaupun saya ragu apakah di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini di ranah maya yang sangat-sangat liberal, aksi ini akan segera ditanggapi. Inisiatif yang baik tapi saya pribadi punya cara pandang yang berbeda mengenai hal ini. Ada dua hal utama yang mendasarinya.

Pertama, kalau benar si empunya blog adalah orang Malaysia yang benar-benar membenci Indonesia, saya pikir biarkan saja. Malah saya merasa kasihan dengannya. Benar-benar berat dan memprihatinkan nasib seseorang yang membawa beban kebencian di hatinya. Mungkin hidupnya akan berat baik di dunia maupun di akhirat. Kita sebagai bangsa Indonesia yang membaca blognya memang merasa sakit tapi saya yakin kesakitan yang kita alami ketika membaca blog itu merupakan curahan ampunan atas dosa-dosa kita, dan rasa sakit di hati kita ketika membaca blog tersebut merupakan pengurang dari amal kebajikan yang telah dibuat oleh sang blogger.

Kedua, kalau ternyata si empunya adalah orang Indonesia asli yang memancing di air keruh, yang mana memang bisa saja terjadi, dengan motif mencari popularitas dan visit ke blog yang besar. Saya malah tambah kasihan dengan sang blogger ini, karena dia sama saja memakan daging saudaranya sendiri. Yang mana, dengan alasan apapun, rasa sakit kita merupakan pelebur dosa buat kita dan menjadi pengurang amal buat dia jadi sama saja.

Jadi, kalau saya ditanya bagaimana sikap saya mencermatinya, saya sih biasa saja. Ada ataupun tidaknya blog tersebut, kita tetap bangsa yang satu, berbudaya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan kita tetap memiliki tujuan untuk menjadi khalifah di bumi ini. Pesan saya untuk semua bangsa Indonesia yang merasa sakit dengan tulisan dalam blog tersebut, gak perlu diambil hati dan memberikan komentar. Pendapat saya, isinya semua sampah kok. Tidak ada energi positif maupun pencerahan pemikiran di dalamnya. Cobalah cermati bagaimana dangkalnya pemikirannya menyamakan lambang negara kita dengan Polandia, kata si blogger kita meniru Polandia. Kenapa gak bilang saja kita niru Monaco yang jelas-jelas benderanya sama. Nah, seperti itu contoh dangkalnya.

Yang jelas ada tidaknya blog tersebut, kita tetap harus bekerja setiap hari, beribadah, bersenang-senang dan gembira. Terlalu memikirkannya hanya menguras energi saja. Setuju?