Archive Page 3

27
Jan

Cerita tentang Mbak Joyce dan Pak Harto

Di pertengahan minggu ini saya dikagetkan oleh sebuah kabar melalui email bahwa mbak Joyce, salah satu group leader di training leadership Dale Carnegie, meninggal dunia. Mbak Joyce F Sepang, wanita yang ceria, bersemangat dan heboh, baru berusia sekitar 45 tahun. Masih terbilang muda, dan masih bisa teringat di memori saya, almarhumah begitu bersemangat dan antusias di setiap sesi yang kami ikuti waktu training. Sangat tidak pernah menyangka sedikitpun akan mendengar kabar seperti itu, juga teman-teman training saya yang lain. Semua bertanya-tanya ada apa gerangan, kenapa rekan dan sahabat kami begitu cepat meninggalkan dunia ini?

Menurut keterangan dari pihak keluarga mbak Joyce, sebelum meninggalnya, Mbak Joyce sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari dan sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Disinyalir ada kanker di sela-sela otaknya. Mungkin itulah penyebabnya tapi siapa yang tahu pasti?

Hanya butuh hitungan hari bagi mbak Joyce di rumah sakit sebelum akhirnya beliau meninggal. Sangat berbeda dengan kabar di media beberapa hari terakhir dimana mantan Presiden Republik Indonesia, Jenderal Besar Purnawirawan H M Soeharto yang sudah demikian kritisnya masih mampu naik turun kondisi fisiknya. Sudah hampir sebulan lamanya beliau dirawat dengan intensif di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Kala masih kritis keadaannya beberapa rekan bahkan mungkin banyak lagi anak bangsa ini bertanya-tanya, “apakah ini waktunya beliau?” konon katanya, sudah banyak yang menanti di Solo dan bersiap-siap siapa tahu sang Jenderal benar-benar berpulang. Ternyata kabar itu belum juga terdengar bahkan tanggal 26 Januari 2008, di media terdengar kabar bahwa keadaan beliau membaik dan diprediksi dalam beberapa hari beliau bisa pulang ke rumah. “hebat” pikirku. Ternyata tidak ada seorangpun yang mampu meramalkan kapan kematian seseorang, beliau bisa kembali ke rumah. Namun hal tersebut berbalik 180 derajat ketika keesokan harinya, 27 Januari 2008 pukul 13.10 ternyata The Smiling General wafat setelah seluruh organ penting di tubuhnya tidak berfungsi lagi. Kabar yang begitu cepat, yang tidak bisa diprediksi bahkan oleh para dokter sekaliber dokter kepresidenan yang merawat Pak Harto.

Hampir semua stasiun televisi menayangkan program breaking news mengenai wafatnya pak Harto, sontak seluruh stasiun televisi menayangkan memori mengenai Bapak Pembangunan ini, mengenai bagaimana beliau menjalani masa kecilnya di dusun kecil di pinggiran Yogyakarta sampai bagaimana prestasi beliau membawa kemajuan ekonomi bagi bangsa ini. Dari berita-berita dan tayangan tersebut saya bisa melihat bagaimana ternyata kilasan hidup seseorang yang berusia 86 tahun dapat ditayangkan hanya dalam beberapa waktu saja. Mungkin tidak semua memang tetapi hal itu menyiratkan bahwa betapa hidup itu begitu singkat. Cukup singkat bagi Pak Harto, mungkin akan lebih singkat lagi bagi mbak Joyce.

Umur manusia memang benar adanya tidak bisa ada yang bisa meramalkannya. Saya sangat tahu makna dari kalimat tersebut, mungkin jutaan orang didunia ini pun tahu maksudnya. Masalahnya, kita sering lalai dengan umur yang sudah digariskan kepada kita. Masih banyak diantara kita mungkin lupa bahwa sebenarnya kita saat ini hanya menunggu giliran untuk dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Meminjam istilah yang sering digunakan oleh Aa Gym bahwa kita semua ini adalah sebenarnya calon mayat. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan meninggal tetapi kita dapat tahu pasti bahwa kita semua pasti meninggal. Dua kejadian dalam minggu ini menyadarkan saya bahwa betapa kita begitu rapuh. Mumpung masih tersadarkan, mumpung masih ada waktu tersisa, rasanya tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan diri menunggu waktu kita.

=============================================================

Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal: apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang di sana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "Oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal, pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober. Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah memberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras. Malah Donal ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik, dan Kwek, hampir selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada di pihak Paman Gober. Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Paman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis di lorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, adalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam, menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekali bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai? "Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.
"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.
"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek.
Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

“Belum mati juga!"
Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburannya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, dan membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukannya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?"Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.


"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terlalu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetangga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."
"Apakah saya tidak punya hak bicara?"
"Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."
"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."
"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."
"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"
"Yang jelas manusia bisa makan manusia."
"Tapi Paman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat
manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televisi. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monumen, apa jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.
"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Paman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."
"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada satu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah
semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di
dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.
"Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.
"Apakah itu hakikat hidup bebek?"
"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui hanya satu: apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, di halaman pertama.

27
Jan

In Memoriam : Pak Harto

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun

Soeharto

Jenderal Besar (Purn) HM Soeharto

18 Juni 1921 - 27 Januari 2008

Presiden Republik Indonesia 1967 - 1998

Semoga arwah beliau diterima disisi-Nya dan perjuangan beliau untuk bangsa ini dapat diteruskan dan cita-cita beliau untuk bangsa ini dapat terwujudkan.

Amiin.

25
Dec

Supernatural – TV Series : Mistik ala Amerika.

SntvLibur panjang Idul adha dan juga Natal kali ini memberi kesempatan saya untuk menonton DVD Supernatural yang sudah sekian lama saya beli tapi belum kesampaian untuk menontonnya. Setidaknya tugas-tugas kantor dan kewajiban di rumah di waktu biasa membuat saya tidak bisa menyisihkan waktu untuk menikmati dengan baik serial tersebut. Untunglah liburan kali ini tidak ada rencana kemanapun sehingga dari pada waktu senggang ini menjadi waktu yang membosankan, sebagian saya gunakan untuk melalap seri Supernatural ini.

Supernatural berkisah tentang perjalanan sebuah keluarga… hmmm lebih banyak sebenarnya perjalanan kakak beradik, Dean (Jensen Ackles) dan Sam Winchester (Jared Padalecki) dalam berjuang untuk memerangi iblis yang telah merubah hidup mereka. Di waktu mereka kecil, ibu mereka dibunuh secara supernatural oleh iblis, sejak saat itu hidup mereka berubah. Mereka hidup nomaden dari satu tempat ke tempat lain mengikuti ayah mereka yang menyimpan dendam untuk membasmi iblis yang telah merenggut nyawa ibu mereka itu. Nah, kisah Supernatural untuk season pertama adalah kisah pencarian kakak beradik itu terhadap ayah mereka yang telah beberapa lama meninggalkan mereka.  Dalam perjalanan tersebut mereka tidak saja menghadapi iblis yang telah membunuh ibu mereka tetapi juga menghadapi kejadian-kejadian aneh di tempat-tempat yang mereka singgahi. Mereka melacak keberadaan iblis dari kejadian-kejadian supernatural yang terjadi. Sehingga masalah yang mereka hadapi pun beragam, dari peristiwa yang benar-benar supernatural maupun peristiwa berhadapan dengan psikopat. Di Season kedua  lebih banyak bercerita bagaimana kedua kakak beradik ini berhadapan dengan iblis yang bentuknya bermacam-macam, di season ini pula mereka menemukan banyak teman-teman baru baik sesama pejuang maupun orang-orang yang berkemampuan istimewa seperti mereka.

Menyaksikan Supernatural, saya merasa kita bisa lebih mengenal Amerika dan budaya lokalnya yang khas. Selain legenda-legenda lokal yang menjadi dasar cerita, cara berpikir masyarakat disanapun dapat lebih terdeskripsikan dengan baik. Negara adidaya sekelas Amerika pun punya legenda yang tidak jauh beda dengan masyarakat kita disini. Masih suka hal-hal yang mistis dan juga religius. Hanya saja, di film Supernatural ini, hal-hal mistispun tetap diupayakan dicarikan logika berpikirnya. Artinya mereka menampilkan hal-hal mistis dan supernatural tetapi tetap dengan alur berpikir yang logis. Kenapa iblis itu ada di daerah tersebut, kenapa harus keluarga Winchester yang diserang oleh iblis itu dan pertanyaan lainnya dicoba dijawab dan diurai dengan logika di tiap urutan episodenya. Dan yang lebih membuat ribuan orang menyukai seri ini karena seri ini tidak mengekspos keseraman (spookiness) sebagai satu-satunya daya tarik. Kekuatan cerita dari seri ini justru membuat tiap episodenya menarik. Hal ini bisa dilihat dari situs resmi serial ini (www.supernatural.tv), setiap episode dari serial ini didasarkan kepada legenda yang benar-benar mengakar di masyarakat. Ada tim tersendiri yang melakukan riset mengenai legenda-legenda yang menjadi acuan cerita ini.

Topik yang menarik dan menegangkan yang banyak disukai dan menggelitik rasa penasaran banyak orang memang menjadi salah satu kunci sukses serial ini. Ditambah lagi nilai-nilai pengorbanan dan juga hubungan keluarga dari kakak beradik ini menambah nilai emosional kepada pemirsanya. Banyak hal yang bisa dipelajari dari cerita di serial ini. Salah satunya adalah ada kalanya kita harus mengorbankan kepentingan kita sendiri untuk kepentingan orang lain. Hal ini sering berkecamuk dalam diri Sam maupun Dean, bagaimana hidup mereka menjadi “tidak normal”, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk memburu sang iblis, membuat mereka tidak bisa hidup layaknya orang lain, hidup tenang dan bahagia. Mereka harus berkorban, bila apa yang telah menimpa mereka dulu tidak menimpa kepada orang lain.

Well, untuk para pemirsa tv Indonesia yang bosan dengan sinetron Indonesia yang judulnya pake nama cewek melulu, kayaknya bisa menjadikan serial tv ini menjadi salah satu favoritnya deh, atau kalau tidak sempat nonton di tv yah beli aja DVDnya banyak kok hehehe.. Oh iya, serial ini dapat rating superb oleh para voters di TV.com lho. Jadi yang bilang bagus bukan aye doang. So, let join Dean and Sam to hunt the demons!!

06
Dec

Sempurna

Sempurna – Andra and the Backbone

Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
kau membuat diriku akan slalu memujamu

Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..

Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku

<em
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..

===========================================

Kalau kata Hardrock FM lagu ini merupakan lagu yang paling banyak direquest di radio itu pada tahun 2007 ini. Lagu yang indah memang, lirik yang unik sehingga mampu mencuri perhatian para pecinta musik pop Indonesia. Itu kata Hard Rock lho… kalo kata saya dan beberapa orang teman saya… liriknya rada berlebihan ya… Apa iya sih ada manusia yang sempurna. Apalagi kalau setting dari lagu itu adalah pujian dari sang kekasih kepada pasangannya. Duuh… sepertinya bisa dimarahin pak Ustad nih… bukannya kata pak Ustad yang begitu sempurna itu adalah Sang Maha Kuasa, Allah Azza Wa Jalla. Baiknya sih emang kalo Andra and the Backbone itu nyanyiin lagu ini rada diubah dikit. Bisa jadi lagu pujian yang nyaingin lagu-lagunya Ungu.

Whatever lah…

Dsc03944

12
Nov

Angan di Awan

Dia datang di tengah malam yang sunyi, kala aku terbuai di atas Awan. tadinya kuragu pertanda apakah gerangan? Mungkinkah dia kembali seperti dulu ketika dulu masih tersenyum ramah dan tangan terbuka menyambut. kucoba meraba pertanda itu, kuberanikan diri mendekat, kerelakan diri ini mendekat tak terlindungi. Ternyata aku salah, dia bukan dia dulu lagi. Dia saat ini adalah dia yang penuh waspada dan tak terjamah lagi. mungkin memang dia takkan pernah kembali. Hanya sebuah angan di atas awan. Sebuah angan yang indah yang entah sampai kapan.

09
Nov

Relieving Moment

Beberapa hari terakhir memang saya merasa begitu banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor. Baik pekerjaan yang sudah lama terbengkalai, sedang dikerjakan maupun pekerjaan yang baru harus dikerjakan. Sedikit banyak membuat penat dan harus pulang malam hari. Ditambah lagi keadaan kota Jakarta yang semakin tidak bersahabat beberapa minggu terakhir ini. Kadang jam 11 malam baru bisa sampai di rumah.

Pada hari itu saya harus pulang agak malam sehingga baru sampai di rumah sekitar jam 11 malam. Wah bete juga pikirku. Setelah bersih-bersih badan dan siap untuk tidur hal-hal yang terjadi di kantor pada sepanjang hari itu tetap membuat mata belum mau terpejam. Kepala terasa agak migren dan otot-otot sekitar mata terasa tegang dan lelah. Mungkin karena harus memelototi komputer sehari itu.

Di tengah proses untuk meredam lelah itu, Aufar, buah hati saya, terbangun. Kupikir dia akan rewel dan nangis. Duuh… begadang lagi nih, pikirku. Ternyata dia melihat saya di sela-sela matanya yang sipit yang tambah sipit karena masih mengantuk. Dia tersenyum dengan memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. “Ayah” sahutnya tiba-tiba. Ia terbangun, merangkak kearahku dan mendekati wajahku, “Mmmmuahh” tiba-tiba Aufar mengecup pipiku. Setelah itu  di mengucek-ngucek matanya  lalu kembali tertidur di sebelah saya. Pada momen itu aku merasa terharu sekaligus merasakan kelelahan yang mendera akhirnya luluh. Tidak terasa aku langsung tertidur tanpa teringat lagi hal-hal yang mengganggu pikiranku tadi. I love you, son…

Image211

10
Oct

Cerita kecil dari Hong Kong

Sekitar akhir bulan September yang lalu, saya dan beberapa rekan kantor saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Danone Treasury Conference Asia Pacific yang tahun ini diselenggarakan di Hongkong. Event yang biasanya diadakan setiap tahun ini kini diadakan kembali setelah hamper 2 tahun vacuum karena berbagai project yang ada di region Asia Pacific. Merupakan hal yang baru bagi saya mengunjungi negerinya Jacky Chan ini. Karena hal barunya ini, saya dan rekan-rekan saya sudah mencoba membuat planning jauh-jauh hari agar kesempatan ini tidak hanya terlewatkan sia-sia. Hampir satu minggu lamanya kami menghabiskan waktu di sana. Beberapa hal unik yang terjadi disini. Mungkin kita sudah tahu dari berita-berita maupun media bahwa Hongkong adalah salah satu Negara tujuan pengiriman TKI yang terbesar. Sayangnya TKI yang dikirimkan ke Hongkong dan juga ke sebagian Negara lainnya adalah sebagai buruh kasar ataupun pembantu rumah tangga. Saya rasa itu benar, sejak keberangkatan dari Cengkareng sudah banyak orang-orang sebangsa kita dalam satu pesawat. Kata rekan saya nih, dari penampilannya saja sudah ketahuan mereka ke Hongkong sebagai apa. Hanya segelintir orang saja yang terlihat berangkat dalam rangka liburan atau bisnis (yah, mereka juga dalam rangka bisnis but you know what I mean lah). Tiba di Bandara Hongkong saja sudah beberapa kali terdengar wanita-wanita yang parasnya familiar karena berwajah melayu, dan akan terasa familiar lagi ketika mendengar percakapan yang mereka lakukan… orang jawa medhok… saya langsung berpandangan dengan rekan saya… serasa di Semarang pikir saya.

Tadinya saya pikir ceritanya cukup sampai disitu, hanya bertemu, papasan atau sekedar mendengar percakapan dalam bahasa jawa di MTR (subway) tetapi ada yang lebih membuat geleng-geleng kepala dan membuat kami geli. Mungkin saking banyaknya TKI disana sampai-sampai kami menemukan ada spanduk peringatan dalam bahasa Indonesia yang bertuliskan “mohon tidak duduk atau bersandar di trotoar pejalan kaki” dengan tulisan yang besar dan dominan dibandingkan dengan tulisan lokal. Hongkong1Tulisan ini membuat geli karena hampir di semua tempat umum yang kami sambangi hampir sulit menemukan peringatan dalam bahasa Indonesia kecuali yang kami temukan di Causeway ay tu. Dari cerita-cerita yang saya dengar memang TKI-TKI kalau pada masa liburan atau weekend suka kongkow-kongkow di taman kota atau pinggir jalan, termasuk di pinggir-pinggir trotoar yang sepertinya kebiasaan tersebut bukan merupakan hal yang umum disana.Di balik kegelian kami ini, saya yakin semuanya bertanya dalam hati, bangga atau malu?

18
Sep

Gaya Tidur Anakku

ImagePemandangan apa yang paling menentramkan dalam hidupku? Kalau ada orang yang bertanya demikian, pasti akan saya jawab bahwa pemandangan yang paling menentramkan adalah melihat anak saya tidur. Dengan gaya tidurnya yang khas, saya suka tersenyum-senyum sendiri kalau sedang mengamati dia. Subhanallah, dia semakin besar dan semakin lucu saja dari hari ke hari.

Dengan keadaan pekerjaan saya yang sekarang ini, saya paling tidak sabar untuk melihatnya. Tapi karena seringkali saya pulang sudah larut, maka ketika sampai rumah saya bertemu dengannya sudah dalam keadaan tidur. Namun demikian, pemandangan Aufar yang sedang tidur itu seketika meluruhkan rasa capek saya, rasa lelah saya dan bahkan mungkin melupakan sejenak masalah-masalah yang saya hadapi.

Image47Tidak jarang kalau sudah demikian, saya pun ingin ikut menemaninya tidur. Dan rasanya itu adalah tidur yang terindah yang saya alami. Walaupun sesekali kena tendang, ketindihan ataupun jadi terdesak ke tembok, pengalaman tersebut sungguh membahagiakan saya.

Banyak orang yang berkata bahwa menjadi seorang ayah akan merubah seseorang. Mungkin itu benar, dengan menjadi seorang ayah, saya jadi ingin berlama-lama di rumah, bermain dengan anak sepanjang hari. Andaikan saja saya sudah berada di Zona kebebasan Finansial. Mungkin bermain dengan anak sepanjang hari akan menjadi pilihan hidup saya. Jadi terlihat bodoh yang namanya mengejar karir dan achieve project. Karena kebahagiaan sejati ternyata adanya di rumah, dan itu bisa jadi melihat anak saya sedang tidur.

Dsc04206

13
Sep

Marhaban, Yaa Ramadhan…

PuasaAlhamdulillah, saya masih diberi umur dan kesempatan untuk mengalami bulan Ramadhan tahun ini. Berarti saya masih diberi kesempatan untuk membenahi dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik oleh Allah, SWT. Kadang saya merasa malu kepada-Nya. Betapa Dia begitu baik dan peduli kepada saya walaupun saya terkadang lupa dan melanggar perintah-Nya.

Terima kasih ya, Allah atas karunia-Mu ini. Terima kasih untuk kesempatan ini, untuk kesehatan ini, untuk kedamaian ini, untuk kehangatan ini dan semua yang tidak mungkin dituangkan dalam kata-kata maupun tulisan.

Buat teman-temanku disana, Mohon maaf kalau saya banyak salah sama kalian. Selamat berpuasa…

05
Sep

Belajar dari Burung

Seorang teman mengirimkan sebuah inspirasi yang sangat bagus buat saya. sebuah cerita yang membuat saya berpikir kembali tentang kekhawatiran-kekhawatiran saya. Banyak hal yang entah akan terjadi atau tidak yang sudah kita bayangkan saat ini. "bagaimana kalau… bagaimana kalau…" selalu saja menggelayut di sanubari. beban hidup memang semakin lama terasa semakin berat. namun beban itu ada bukan karena mereka datang ke kita. tetapi kita sendiri yang menciptakannya. Menyuburkannya, dan melestarikannya dengan ketakutan-ketakutan duniawi. semoga memberikan inspirasi.

======================================================

Belajar Dari Burung Oleh : CASNADI

“Waaah, disini masih banyak burung ya ki………..” Kata Mauala, yang tengah duduk beristirahat digubuk ditengah ladang.

“Ya Nak, sengaja aki membiarkan pepohonan itu, agar populasi hewan disini, terutama burung-burung itu, tetap lestari………” Kata Ki Bijak. “Iya ki, ditempat-tempat lain, sekarang sudah jarang dijumpai burung-burung bebas beterbangan seperti disini……….” Kata Maula.

“Kadang Aki malu pada burung-burung itu Nak Mas……………….” Kata Ki Bijak. “Malu pada burung ki…..?” Tanya Maula keheranan. “Iya Nak, coba Nak Mas pikirkan, burung-burung itu sama sekali tidak punya cadangan makanan disarangnya, kemudian burung-burung itu juga tidak punya pekerjaan tetap, burung-burung itu tidak punya kantor, tidak punya saham apalagi memiliki perusahaaan………..” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki……………..?” Tanya Maula penasaran. “Dengan kondisi yang serba tidak punya itu, burung-burung tidak pernah merasa khawatir bagaimana mereka makan, bagaimana mereka bisa menghidupi anak-anaknya, tidak pernah resah esok makan apa, mereka menjalani kehidupannya dengan penuh keyakinan bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki kepada setiap mahluk-Nya……….” Kata Ki Bijak.

“Burung tidak pernah resah hingga tidak bisa tidur misalnya, burung tidak pernah panik karena tak punya tabungan misalnya, mereka, dengan berbekal keyakinan kepada Allah, terbang dari sarangnya setiap pagi untuk mengais rezeki yang telah dipersiapkan Allah untuk mereka, dan seperti Nak Mas lihat, burung-burung itu, mereka sehat dan tidak kekurangan apapun…………..” Kata Ki Bijak. Maula mulai tertarik untuk mengamati burung-burung yang datang dan pergi, hinggap dipucuk pepohonan, mereka nampak cantik dan anggun, bertengger sambil berkicau riang……

“Coba Nak Mas bandingkan dengan kehidupan kita, kita punya pekerjaan tetap, kita mempunyai penghasilan tetap, dirumahpun kita memiliki persediaan makanan minimal untuk satu minggu kedepan, tabungan pun kita masih memilikinya, bahkan banyak diantara kita yang memiliki saham dan perusahaan sendiri, tapi tengok kehidupan kita, hampir setiap hari kita dihinggapi perasaan tidak puas dengan pekerjaan dan penghasilan kita, hampir setiap hari kita dijangkiti rasa khawatir kalau persediaan kita habis, hampir setiap hari kita selalu dipusingkan dengan keinginan untuk menambah penghasilan, sehingga ketika pulang sore hari hingga menjelang tidur, mata kita sulit terpejam, sehingga ketika pagi tiba, tubuh dan pikiran kita pun lelah tak karuan, uring-uringan dan lain sebagainya, apa yang kurang pada kita……………?” Kata Ki Bijak.

Maula tertegun, menyadari kebenaran ucapan gurunya, karena ia pun kerap merakan hal yang sama seperti yang diucapkan gurunya, ia kerap merasa bingung meskipun baru sehari yang lalu gajian, ia pun kerap merasa resah meskipun persediaan makanan masih berkecukupan, ia pun kerap merasa khawatir dengan hari esok yang belum pasti dan masih dalam khayalan………..; “Iya ya ki, Apa yang kurang dari kita ………?” Kata Maula setengah bertanya. “Yang kurang dari kita adalah keimanan dan keyakinan kita terhadap kebenaran janji Allah, bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki seluruh mahluk-mahluk-Nya………..” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas perhatikan firman Allah berikut” Kata ki Bijak menguti firman Allah dalam surat Huud:6 6. Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [709] yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa. [710] menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim. “Semut yang berada didalam bumi paling bawah, ikan yang berada didasar laut yang paling dalam, beruang yang berada dikutub, kuman yang terkecil sekalipun, gajah dilebatnya hutan sekalipun, dan apalagi kita manusia, tidak ada satupun yang luput dari Allah, dan pasti mereka mendapatkan jatah rezeki dari Allah……..”Kata Ki Bijak.

“Apa yang harus kita lakukan agar kita bisa seperti burung-burung yang senantiasa riang, tanpa terlalu dipusingkan oleh urusan dunia yang berlebihan, ki………..’Tanya Maula.

“Berlakulah seperti burung-burung itu Nak Mas, yang pertama yang harus kita miliki adalah pondasi keimanan yang benar, bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki kita, bukan atasan, bukan pula perusahaan, untuk itu jika kita berkerja, bekerja-lah untuk Allah saja, bukan semata demi gaji, bukan semata karena ingin dipuji, lillahita’ala, insya Allah,kita akan lebih rileks dan ringan menjalani kehidupan kita……….” Kata Ki Bijak “Yang kedua,”terbanglah” setiap hari untuk menjemput rezeki kita, jangan malas, jangan bermimpin bahwa rezeki datang dari langit, sementara kita hanya berpangku tangan, karena kita masih berada dialam ihtiar, maka sempurnakan ihtiar kita, kemudian serahkan hasil ihtiar kita sepenuhnya kepada Allah …..”Kata Ki Bijak “Yang ketiga, perkayalah diri kita dengan sikap qana’ah, rasa kecukupan, terlepas dari berapa pun yang kita dapatkan dari ihtiar kita, insya Allah, kita tidak lagi akan menanggung beban yang terlalu berat akibat keinginan kita untuk mendapatkan hasil yang berlebihan……….” Kata Ki Bijak lagi.

“dan jangan lupa, pandai-pandailah bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita, jangan menggerutu, jangan mengeluh, karena sesungguhnya Allah telah memberi kita jauh lebih banyak dari apa yang kita minta……..” Kata Ki Bijak. “Lebih banyak ki…..?Tanya Maula.

“Ya, pemberian Allah kepada kita jauh melebihi apa yang kita minta,kesehatan yang hampir tak pernah kita minta, Allah telah memberinya, kelengkapan jasmani kita, tangan kita, mata kita, kaki kita dan lainnya, adalah pemberian Allah yang kita tidak pernah memintanya, tapi Allah telah memberikan semua itu sebagai modal kita untuk mengabdi kepada-Nya…….”Kata Ki Bijak.

“Allah-pun telah memuliakan kita melebihi kemulian yang diberikan Allah kepada mahluk-Nya yang lain, akal kita, iman dan islam kita, yang Allah tekah karuniakan kepada kita, jauh lebih banyak dan lebih besar dari sekedar permintaan kita untuk naik gaji, naik pangkat, minta jabatan dan lainnya……..”Kata Ki Bijak.

Tak terasa, air bening mengalir kepipi Maula, matanya memerah, nafasnya sedikit tersengal, Ki Bijak membiarkan muridnya untuk menumpahkan segenap rasa yang bergejolak didada Maula.

“Astaghfirullaaah…, astaghfirullah……..” rintih pelan terdengar dari mulut Maula. Ki Bijak maklum dengan perasaan muridnya yang memang sensitif ketika mendengarkan wejangan-wejangannya, “Masih ada kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri jika selama ini kita masih banyak mengeluh, jika selama ini kita selalu saja menggerutu dan khawatir dan tidak yakin dengan janji Allah, bersegerlah bertobat, mumpung kita masih diberi waktu……….” Kata Ki Bijak.

Tak terdengar jawaban apapun dari Maula, hanya isaknya terdengar lebih menyesakan, air matanya berlinang, bersyukur bahwa Allah mengingatkannya melalui lisan Ki Bijak Gurunya.